Repotnya Naik Taksi di Kota Bandung

Sebagai ‘mantan’ mahasiswa rantau di kota Bandung, saya sangat merindukan saat-saat pulang ke kampung halaman tercinta saya di Semarang. Dimana setelah turun dari kereta api atau bis, saya langsung disambut oleh supir taksi yang menawarkan jasanya dengan ramah. Begitu masuk ke dalam mobil, si supir taksi langsung memberikan salam “sugeng enjang” yang berarti selamat pagi dalam bahasa Jawa, dan menyalakan argo. Hal-hal sederhana seperti itu ternyata tidak bisa saya dapatkan di kota Bandung, kota yang notabene jauh lebih besar dan lebih maju dibandingkan Semarang.

Taksi di Kota Bandung

Kenapa bisa begitu? Sebenarnya apa yang salah dengan taksi di kota Bandung? 😀 Well, sebelum kita sampai ke jawaban dari pertanyaan tersebut, mula-mula kita harus tahu bahwa banyak sekali taksi-taksi yang berseliweran di kota Bandung. Sebut saja, Blue Bird, taksi Express, Rina Rini, Cipaganti, Gemah Ripah, AA Taksi dan banyak lagi. Di tengah persaingan dengan banyaknya penyedia jasa taksi di kota Bandung, banyak taksi yang lantas bermain nakal dengan calon penumpang, apalagi penumpang yang bukan orang asli Bandung atau baru pertama kali ke Kota Bandung. Beberapa permainan nakal yang sering dilakukan oleh taksi-taksi Bandung antara lain sebagai berikut :

Taksi Bandung

Taksi Bandung | bandungtoday.com

Taksi Bandung tidak “argo” secara default

Berbeda dengan di Semarang, atau di kota-kota besar lainnya seperti Jogja, Solo dan Jakarta. Supir taksi di kota Bandung nampaknya tidak memahami perbedaan antara angkot biasa dengan taksi. 😀 Yaitu taksi mempunyai argometer, dan alat itulah yang seharusnya digunakan untuk menentukan tarif taksi sekali jalan. Saya masih ingat masa-masa dimana sesampainya di kota Bandung di dini hari, hal yang pertama kali harus saya lakukan adalah nego tarif dengan supir taksi, karena supir taksi tersebut tidak mau pakai argo. Dan biasanya tarif yang ditawarkan adalah dua kali dari tarif memakai argometer, jadi apabila seharusnya jika memakai argo tarifnya adalah 30.000. Maka si sopir taksi akan meminta tarif sebesar 60.000 rupiah. Bener-bener deh…

Taksi Bandung suka mengantar pengunjung “berkeliling”

Dalam artian mereka suka memutar-mutarkan pengunjung sebelum sampai ke tempat tujuan, dalam beberapa kasus seperti yang pernah dialami teman saya, ada taksi yang bahkan memutarkan pengunjung lewat jalan tol. 😀 Yang tentunya akan menaikkan tarif taksi hingga kisaran ratusan ribu rupiah.

Trik Menghadapi

Sebagai konsumen, tentunya kita tidak ingin dirugikan. Apalagi sebagai seorang mahasiswa yang berkantong cekak, kita harus pandai-pandai memilah dan juga harus mempunyai trik jitu untuk menghadapi kenakalan-kenakalan sopir taksi di kota Bandung. 🙂 Saya tidak akan membeberkan taksi mana yang biasanya curang, dan semacamnya, namun pada postingan ini saya hanya akan berbagi pengalaman, tips dan trik yang biasa saya lakukan untuk mengatasi hal ini.

Kasus 1 : Taksi yang ngetem

Kasus ini biasa terjadi apabila kalian ke kota Bandung naik bis. Sesampainya di agen bis atau terminal (kalau saya biasa naik bis Pahala Kencana dan turun di agennya, jalan R.E. Martadinata Riau), kalian akan melihat banyak taksi-taksi yang ngetem di pinggir jalan. Aturannya adalah, jangan naik taksi yang ngetem, walaupun supir2 taksi akan mendekati calon penumpang secara agresif. Karena kalau kalian langsung nurut, maka salah satu dari dua hal di atas bisa terjadi kepada kalian. 😀

Sebaiknya setelah turun dari bis, berjalanlah kaki terlebih dahulu menjauhi tempat taksi-taksi yang pada mangkal itu, jika ditawari bilang saja sudah mau dijemput. Setelah berada di tempat yang lumayan strategis, cegatlah taksi yang lewat dan naiklah ke taksi tersebut. Taksi yang lewat jauh lebih baik daripada taksi yang mangkal atau ngetem dan mereka biasanya mau pakai argo, coz karena kita nyegat, dan mereka posisi berhenti di tengah jalan sehingga tidak ada waktu untuk tawar menawar.

Jika setelah lama menunggu kok nggak ada taksi yang lewat, tunggulah beberapa saat hingga ada supir taksi yang menghampirimu lagi. Paksa dia untuk memakai agro, kalau nggak mau maka tawarlah dengan nilai awal separuh dari tarif yang ditawarkan. Misal si supir taksi nawarin tarif 50.000, maka kalian bisa menawar 25.000 dan nego sampai harga yang disepakati. Kalau kalian berdua dengan teman, maka nego tarif bisa lebih longgar, karena toh tarif total akan dibagi dua dengan teman kalian.

Walaupun begitu, tetaplah hati-hati, karena pengalaman saya pernah ditipu oleh seorang supir taksi. Si supir tidak mau pakai argo, dan lantas menawarkan untuk memakai taksi lain yang mau menggunakan argo. Eh, setelah naik tidak taunya saya malah diputar-putarkan (nggak tau dia kalo penumpangnya ini sudah 4 tahun pengalaman di kota Bandung :D) akhirnya saya suruh untuk lewat jalan tikus. Setelah sadar kalo penumpangnya tau Bandung, si supir lantas menawari saya satu batang rokok (WTF :D) yang tentu saja saya tolak.

Kasus 2 : Taksi di Stasiun

Apabila kalian ke Bandung naik kereta api, maka kalian akan turun di Stasiun Kota Bandung atau Stasiun Hall. Begitu keluar, kalian akan diserbu dengan berbagai supir yang menawarkan jasanya, ada supir travel, supir ojek, supir becak dan tentu saja supir taksi. Cuekin saja, jalanlah terus ke tengah tempat parkir ke tempat taksi-taksi biasa mangkal/ngetem.

Sampai di situ, pilihlah taksi Blue Bird, maaf sebut merek :D, tapi serius, for God’s sake, pilihlah taksi Blue Bird. Sering supir-supir taksi lainnya tidak terima dan menyuruh kalian untuk naik taksinya (dengan dalih sesuai urutan, supir-supir taksi biasa bilang ke kita “Naik taksi A dulu”), bahkan terkadang supir Blue Bird-nya ikut mengalah, dan menyuruh kita naik taksi lainnya sesuai urutan. Tapi jangan mau, tetep keukeuh hampiri saja salah satu taksi Blue Bird yang ada, nanti supir taksi lain akan mengalah dan akhirnya kalian bisa mendapat tumpangan yang aman.

Jika tidak ada taksi Blue Bird, maka keluarlah dari Stasiun Hall ke tepi jalan raya, dari sana berjalanlah ke arah kiri. Maka kalian akan menemukan banyak taksi Blue Bird yang mangkal. Atau taksi-taksi baik lainnya di situ.

Pengalaman, jika kalian sembarangan milih, atau nurut saja ketika disuruh naik taksi. Kalian akan diputar-putarkan, atau si supir tidak mau pakai argo.

Kesimpulan

Itulah beberapa pengalaman yang bisa saya bagikan, semoga bisa membantu dan memberikan sedikit info bagi kalian yang ingin berwisata ke kota Bandung. Sejauh pengalaman saya, taksi yang paling recommended adalah taksi Blue Bird. Jadi kalau bisa pilihlah taksi itu. Taksi wisata lainnya seperti Cipaganti, juga bisa menjadi pilihan. Memang tarifnya lebih tinggi dari tarif taksi lainnya, namun karena menggunakan argo, maka tarifnya bisa lebih murah dibandingkan taksi-taksi yang tida berargo. Yang jauh lebih penting adalah kenyamanan dan keamanan penumpang. 🙂

Di kota Semarang juga, dulu banyak taksi liar dan taksi-taksi yang tidak mau pakai argo, tapi karena penumpang/konsumen melakukan revolt dengan tidak mau naik taksi yang non-argo. Maka taksi-taksi liar seperti itu akhirnya tidak laku, dan sekarang sudah hilang, bisa saya katakan semua taksi di Semarang sejak 2005 hingga sekarang semuanya menggunakan argo.

Saat kalian membaca tulisan ini, saya nggak tau apakah sekarang taksi Bandung sudah berubah menjadi lebih baik, atau masih sama saja. Semoga saja sudah jadi lebih baik. 🙂





Download aplikasi kami di Google Play Store


Tutorial Menarik Lainnya :

One Response

  1. Sate Marem April 2, 2015

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!