Pada Akhirnya Kita Semua Akan Meninggalkan Ojek Online

Karena pada saat pindah ke Jakarta saya tidak membawa kendaraan apapun, saya bisa dibilang termasuk pengguna transportasi online yang sudah cukup lama, tulisan-tulisan saya tentang transportasi online atau gojek online pun bisa kalian temukan banyak berserakan di blog ini. Saya sudah menggunakan Go-Jek sejak pertengahan tahun 2015. Kemudian saat Uber masuk, saya pun beralih menggunakan Uber di awal tahun 2016 hingga sekitaran akhir tahun kemarin. Jika ditotal saya sudah 2 tahun menjadi pelanggan setia Uber, dan juga transportasi online pada umumnya. Namun pada akhir tahun 2017 kemarin, seakan terjadi suatu revelation pada diri saya, yang sebenarnya sudah bisa saya perkirakan dari awal tahun dimana sepertinya kok saya nggak bisa begini terus. Saya harus mempunyai kendaraan sendiri. Karena pada akhirnya kita semua tidak bisa terus bergantung kepada transportasi dan ojek online.

Bagi kalian yang berpikir, emang sesering apa sih saya menggunakan transportasi online? Di bawah ini akan saya coba sajikan sedikit recap data tentang transportasi online / ojek online / transportasi publik yang sering saya gunakan dari tahun ke tahun selama di Jakarta.

2013

Saat pertama kali merantau (lol) ke Jakarta di bulan Agustus 2013, Go-Jek sama sekali belum terdengar namanya, apalagi Uber atau Grab. Karena tidak membawa kendaraan sendiri, maka di tahun ini saya bergantung ke Busway, opang (ojek pangkalan), dan taksi, terutama Blue Bird. Saya sempat menulis review tentang busway di sini. Dan juga review tentang taksi saat saya berkuliah di Bandung.

2014

Beberapa teman mulai menggukan aplikasi Grab yang saat itu masih bernama Grab Taxi. Saya sendiri karena rute kantor-kosan masih dilewati Busway jadi TransJakarta Busway dan taksi masih menjadi andalan saya sembari sesekali nebeng abang ojek pangkalan.

2015

Tahun 2015 nama Uber (yang masuk di tahun 2014 akhir) mulai terdengar. Saat itu Uber hanya melayani daerah-daerah tertentu di Jakarta (daerah pusat bisnis) seperti di Kuningan dan Sudirman. Pertengahan tahun 2015 saya pertama kali menggunakan Go-Jek dan langsung merasakan manfaatnya karena murah, kita yang dijemput, dan saat itu masih promo tarif flat. Layanan yang saat itu tersedia ya baru Go-Jek online (sepeda motor), belum ada Go-Car apalagi Go-Food. Saya pun beralih menjadi pengguna Go-Jek di sepanjang tahun 2015, namun masih menggunakan Transjakarta busway untuk pulang pergi ke kantor.

2016

Di tahun ini saya mulai melirik Uber. 🙂 Saya masih ingat ketika pesan Uber pertama kali mobil nya masih sedikit. Dan kemudian saat muncul Uber Motor, awal-awal memesan juga icon motor-nya masih sedikit di peta. Saya menggunakan Uber karena suka dengan aplikasinya yang clean dan harganya yang murah ditambah banyak promonya. Saya sampai bikin dua buah akun Uber di dua HP saya, supaya lebih bisa maksimal dalam memanfaatkan promo. 😀 Akhirnya saya menggunakan Uber sebagai transportasi andalan sepanjang tahun 2016, menggantikan Go-Jek. Sesekali masih naik Transjakarta, tapi sudah jarang sekali. Melihat data dari Uber di bawah, tahun 2016 saya menggunakan Uber sebanyak 239 kali. Mainly layanan Uber Motor atau ojek online-nya.

Penggunaan Uber saya selama tahun 2016

2017

Tahun 2017 adalah tahun yang HOLY SHIT, karena tingkat penggunaan transportasi online dan ojek online saya meningkat tajam. Tahun ini saya masih setia menggunakan Uber. Dan entah kenapa di tahun 2017 dua akun Uber saya kedua-duanya menjadi sering terpakai (padahal pacar juga nggak nambah, jadi terpakai nganter siapa, masih menjadi misteri). Histori Uber saya di tahun 2017 pun menjadi seperti ini :

Akun Uber A

Ride distance akun Uber A

Ride distance akun Uber A

Ride taken akun Uber A

 Akun Uber B

Ride distance akun Uber B

Ride taken akun Uber B

Melihat data di atas, so total saya naik Uber sebanyak hampir 650 kali, tepatnya 638 kali. Hal ini kemungkinan karena kantor saya pindah ke daerah yang lebih jauh dari tempat tinggal, sehingga mengharuskan menggunakan Uber untuk pulang pergi ngantor karena rute Busway nya agak susah. Dan juga promo Uber yang gencar-gencar nya sepanjang tahun membuat saya semakin sering menggunakan layanan Uber ini.

2018

Karena itulah, pada akhir tahun 2017 saya memutuskan untuk membeli motor sendiri. Bagi yang penasaran saya beli motor apa, saya beli motor yang model kacangan kok, yang sudah ada dimana-mana, yaitu NMAX. 😀 Apakah blog ini akah berubah menjadi blog NMAX atau otomotif ? Semoga saja tidak 😂

Alasan Pindah Menggunakan Kendaraan (Motor) Pribadi

Alasan Biaya

Alasan utama saya beralih menggunakan kendaraan pribadi adalah karena berhemat biaya. Jika ditotal biaya riding Uber saya selama dua tahun adalah (ambil saja rata-rata perjalanan saya adalah 15.000 rupiah. Maka 638 x 15000 = 13.155.000) sekitaran 13 juta rupiah lebih. Itu belum biaya dari Go-Jek dan Grab, namun harusnya nominalnya lebih kecil.

13 juta lebih dari cukup buat DP Ninja, atau kalau ngga beli motor second. 😀

Jika dibandingkan dengan bawa motor sendiri, bensin NMAX saya seminggu untuk Shell Super cukup isi 30.000 untuk pulang pergi kantor sejauh ~32km PP. Ditotal maka selama 2 tahun, 104 minggu x 30000 = 3120000. Kita bulatkan jadi 3.2 juta ya, karena kalo weekend nya mau jalan-jalan sendiri, biasanya biaya bensin perminggu menjadi 40ribu – 50 ribu. hehe

Itu baru bensin, untuk biaya servis, diambil dari blog otomotif untuk NMAX sekitaran 200 ribu setahun, maka biaya servis untuk dua tahun ya kisaran 500 ribu untuk servis.

Kemudian terakhir adalah biaya parkir, seharusnya 200 ribu cukup untuk parkir setahun dengan tarif parkir 2000/jam. Asumsinya karena parkir kantor saya gratis, dan selalu ke mall sekali tiap weekend. Maka biaya untuk parkir 2 tahun sebesar 400 ribu.

Kemudian biaya lain seperti, beli helm, beli jas hujan, sarung tangan, kerudung motor, pajak STNK dan accessories kecil (bukan modif motor) lainnya sekitaran 1 juta untuk dua tahun.

Maka totalnya adalah 5.1 juta untuk dua tahun. Lebih murah 8 juta dibandingkan pengalaman saya riding dengan Uber total 13.1 juta selama dua tahun. 😂

Memang modal awalnya cukup besar karena kita harus membeli sepeda motor terlebih dahulu, tapi untuk long run saya rasa bakalan lebih hemat jika menggunakan kendaraan pribadi. Apabila kalian hanya ingin merantau sebentar di Jakarta, sekitar 1 – 3 tahun, maka tidak usahlah bawa kendaraan sendiri. Namun jika kalian berencana untuk merantau dalam waktu lama atau bahkan menetap di Jakarta, maka beli motor sendiri bisa menjadi pilihan. Saya sendiri di tahun ke 4 baru beli sepeda motor di Jakarta.

Biaya di atas dihitung dari motor saya NMAX yang bisa dibilang lumayan mahal, OTR 27 juta. Jika kalian memilih motor yang lebih murah atau lebih mahal dari NMAX, maka biayanya pun bisa bervariasi. 😀

Alasan Waktu dan Convenience

Saat menggunakan transportasi online ada beberapa kekurangan seperti, kita tidak bisa memastikan kapan akan mendapatkan kendaraan, bahkan dapat kendaraan atau tidak kita juga belum tahu pasti. Setelah dapat kendaraan, kita kemudian harus mengecek lokasi driver nya dimana, jika dekat maka akan kita tunggu, jika jauh banget maka kalau saya biasanya dicancel dan coba order lagi. Setelah dilihat lokasi driver nya oke, maka kita harus menunggu lagi untuk driver sampai ke lokasi pick-up kita. Jika driver nya tahu jalan, maka itu ngga jadi masalah. Tapi jika drivernya nyasar atau muter-muter, maka kita harus menyiapkan waktu ekstra untuk menunggu kedatangan driver. Dan bahkan menyiapkan pulsa untuk telpon atau sms driver nya. 😂

Itu kalau di awal kita sudah cocok dengan harganya, kalau kena surge pricing maka siap-siap saja menunggu lebih lama untuk memesan, kalau surge pricing nya hanya 10 ribuan mungkin ngga masalah. Tapi jika biasanya kita hanya keluar 10 ribu dan gara-gara surge pricing naik jadi 40 ribu, kalo saya akan nunggu lagi sampai price nya turun. 😂

Kekurangan ojek online yang tidak bisa melayani kebutuhan on premise ini menurut saya merupakan sesuatu yang sangat krusial. Ditambah lagi di area-area tertentu dan jam-jam tertentu, seperti lokasi kantor saya di Kuningan, itu di saat jam-jam pulang kerja pesan ojek online susahnya minta ampun. Karena macet dan demand tinggi, biasanya saya baru dapat 30 menit sampai 1 jam kemudian, itu juga seringnya jarak drivernya jauh dari lokasi pick-up.

Belum lagi kalau hujan, pengalaman terburuk saya adalah menunggu sampai jam 11 malam, karena dari Uber, Go-Jek, ataupun Grab tidak ada sama sekali driver yang mengambil karena hujan dan kemudian tidak reda namun menjadi gerimis kecil sampai tengah malam. Itulah turning point saya mengambil keputusan harus membawa kendaraan sendiri. Karena epic menunggu dari jam 7 malam baru dapet driver jam 11 malam. WTF man. 😂

Begitu pula ketika kita dalam kondisi urgent, terlambat ke meeting, atau mengejar pesawat. Saya banyak mendengar cerita banyak yang di saat-saat itu kemudian beralih ke taksi atau ojek pangkalan yang langsung ada, karena jika memesan ojek online kita belum bisa tahu pasti kapan dapatnya.

Bagi saya yang tidak begitu suka menunggu, saya lebih prefer kendaraan pribadi yang on premise bisa digunakan kapan saja semau kita.

Kira-kira itulah alasan saya berpindah ke kendaraan pribadi setelah bertahun-tahun. Selain biaya, alasan terbesar saya juga karena waktu tadi. Ketika saya sampai menunggu jam 11 malam, di saat pulang kantor dengan kondisi macet dan gerimis karena tidak ada driver yang mengambil, saat itu saya tahu bahwa saya tidak bisa hanya bergantung ke transportasi / ojek online. Di samping itu saya juga pernah telat ke kantor hingga di atas jam 11 pagi dengan alasan yang sama, Grab, Uber dan Go-Jek driver tidak ada yang mau mengambil. Kejadian-kejadian itu terjadi meskipun saya sudah memesan dalam kondisi surge pricing yang lumayan besar.

Walau demikian transportasi dan ojek online tetap menjadi langganan bagi konsumen lain seperti wanita dan orang tua, atau orang-orang yang hanya berniat untuk merantau sebentar saja di Jakarta.

Namun tidak bagi saya, banyak pengalaman sudah saya dapatkan dan saya memutuskan saya butuh kendaraan pribadi di Jakarta. Dan transportasi online akan tetap saya jadikan sebagai backup, atau digunakan kalau ada promo. Karena lambat laun kita pasti akan meninggalkan ojek online… 🙂

DISCLAIMER : Opini ini adalah opini pribadi, dan hanya bermaksud untuk berbagi pengalaman saja, saya tidak mengajak siapapun untuk melakukan tindakan apapun di postingan ini. Dan hal-hal apapun yang pembaca lakukan setelah membaca postingan ini, adalah di luar tanggungjawab saya.





Download aplikasi kami di Google Play Store


Tutorial Menarik Lainnya :

Leave a Reply