Sejujurnya, Gugatan Paten Apple adalah Sangat Memalukan

Apple memenangkan gugatan sebesar satu billion dollar atau sekitar sembilan trilyun rupiah minggu lalu, setelah dewan juri memutuskan Samsung bersalah karena mengkopi beberapa fitur-fitur milik iPhone.


Keputusan itu bagus buat Apple dan para pengacaranya serta pemegang sahamnya.

Dan Samsung beserta perusahaan lainnya harus membayar mahal.

Tapi sejujurnya.

Itu buruk bagi konsumen.

Kenapa?

Karena apabila Apple tetap ngotot untuk mengejar strategi kompetitif yang memalukan ini (dan benar-benar bukan Apple banget), hasilnya konsumen akan mempunyai pilihan smartphone bagus non-Apple yang lebih sedikit.

Dan bisa dibilang, hal ini secara bertahap juga akan mengajarkan Apple engineer bahwa mereka tidak lagi harus mendesain produk yang terbaik agar bisa unggul di pasaran (sesuatu yang biasanya Apple lakukan secara spektakular sampe saat ini), namun sebaliknya, dengan mengutus pengacara kepada siapapun yang mengkopi sesuatu yang Apple lakukan di produk-produk awalnya.

Lebih jelasnya, andaikan patent yang Apple bersikeras untuk melindunginya adalah suatu penemuan yang benar-benar baru, unik, dan fundamental, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun dan trilyunan dollars untuk mengembangkannya dan mengujinya. Ditambah lagi apabila Apple membutuhkan keuntungan penjualan beberapa dekade untuk menutup biaya investasi itu, maka jika perusahaan terkaya dan terkuat di dunia ini menggugat pesaingnya atas imitasi fitur minornya, hal itu mungkin tidak akan begitu mengecewakan.

Tapi bukan itu yang terjadi di sini.

Yang terjadi di sini, adalah ini:

Perusahaan terkaya dan terkuat di dunia, sebuah perusahaan yang menghasilkan lebih banyak uang dalam sehari daripada yang dihasilkan banyak perusahaan dalam setahun, menggugat pesaingnya karena mengkopi beberapa fitur-fitur yang keren, fitur-fitur yang, bisa dibilang, tidak boleh dipatenkan sejak awal.

Apa saja fitur tersebut?

Mari kita lihat :

  • Kemampuan untuk memperbesar dokumen dengan mengetuk (tapping) layar (Menyentuh layar untuk membuat sesuatu terjadi! Wow, benar-benar inovatif!)
  • Menggunakan icon persegi untuk menandai “aplikasi-aplikasi” (Ikon persegi! Jelas pesaing dipaksa untuk membuat aplikasinya menggunakan ikon berbentuk lingkaran, atau segitiga)
  • Mempunyai produk berbentuk persegi panjang dan berwarna putih (Yups. Apple mendapat uang karena sebuah smartphone Samsung berbentuk persegi panjang dan berwarna putih)
  • Mempunyai produk berbentuk persegi panjang dan berwarna hitam (Idem)

Sekarang kalian mengerti.

Maaf, tapi bahkan mengajukan paten untuk fitur-fitur tersebut, sampai menggugat kompetitor lain yang menggunakannya, adalah sangat memalukan, khususnya bagi perusahaan yang sudah sangat kaya dan kuat.

Tentu saja, U.S Patent Office juga bertanggungjawab sebagian, bayangkan tawa dan ketidakpercayaan di kalangan pengacara Apple ketika mereka berhasil mendapatkan patent atas “persegi dan putih”.

Namun tetap saja…

Sebagai salah satu desainer, Bill Flora, menulis di New York Times minggu lalu, bahwa menegakkan patent seperti yang Apple lakukan, ibaratnya menegakkan patent atas “setir berbentuk bulat” pada mobil.

Bayangkan seandainya setir mobil berbentuk bulat dipatenkan, akankah konsumen dipaksa untuk menyetir menggunakan setir berbentuk segitiga atau persegi? Dan bagaimana soal mematenkan konsep “roda empat”? Atau ide menggunakan sayap pada pesawat? Coba teruskan~

Dan lagi, ini semua menjadi lebih mengecewakan karena berasal dari sebuah perusahaan yang mana penemu dan CEO-nya, Steve Jobs membual tentang betapa berbakatnya Apple dalam mencuri ide brilian milik orang lain:

Picasso had a saying. Good artists copy. Great artists steal. And we have always been shameless about stealing great ideas.

Saya bisa mengerti bagaimana marahnya Apple ketika Eric Schmidt, board member Apple yang menjadi Google CEO, membantu Google mencuri ide soal iPhone dan meluncurkan Android.

Saya mengerti bahwa Apple mungkin memandang kemenangannya atas Samsung sebagai serangan pertama pada apa yang Steve Jobs janjikan sebagai “thermo-nuclear war” atas pencurian ide iPhone.

Namun, bagaimana Apple akan menghubungkan antara apa yang dibualkan oleh Steve Jobs pada wawancara di atas saat menjadi CEO, dengan Samsung yang mengimitasi beberapa fitur-fiturnya?

Apple boleh saja berbicara semaunya tentang kemenangan “legal”-nya yang entah bagaimana mengembalikan keadilan kepada dunia.

Dan pemegang saham Apple bisa bergembira karena keputusan itu membuat sahamnya naik.

Dan para fanatik Apple bisa berkata pada dirinya kalo ini semua tentang keadilan dan inovasi.

Tapi itu semua tidak akan mengubah kenyataan.

Apple yang menggugat pesaingnya karena mengkopi fitur-fitur minor, bukanlah soal “keadilan” atau “kebenaran” atau “inovasi” atau bahkan uang (sembilan trilyun adalah nilai ganti yang bodoh).

Itu hanyalah memalukan.

Catatan Editor :

Ketika saya membaca artikel asli yang ditulis oleh Henry Blodget, secara personal saya setuju dengan apa yang dipaparkan olehnya. Sepeninggal Steve Jobs, Apple seperti kehilangan kepercayaan dirinya dan merasa insecure dengan keunggulan pesaing-pesaingnya yang menggunakan platform Android. Yang lantas menggunakan patent-patent “tidak wajar” sebagai senjata untuk melawan mereka. Akankah Apple akan menjadi the next Microsoft yang terus mempermasalahkan lisensi patent dan berhenti berinovasi? Kita berharap itu tidak terjadi.

(editor & translator Herdi Naufal, originally written by Henry Blodget @SAI)





Download aplikasi kami di Google Play Store


Tutorial Menarik Lainnya :

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!