Tutupnya Posterous dan Kisah Startup Setelah Diakuisisi

Posterous mengumumkan bahwa mereka akan menutup layanannya dan akan berhenti beroperasi pada tanggal 30 April. Bersamaan dengan itu, mereka juga menyarankan pengguna agar segera mendownload data pribadinya.

Jujur saya sendiri tidak menggunakan layanan ini, dan kelihatannya juga Posterous kurang populer untuk pengguna Indonesia. Tapi layanan blogging platform ini cukup populer hingga akhirnya Twitter mengakuisisi Posterous pada tahun 2012 yang lalu. Pada blog resminya mereka menulis alasan penutupan ini dikarenakan tim Posterous ingin 100% fokus pada Twitter.

Saya jadi ingat, pada saat tahun kemarin diajak oleh seorang teman membentuk suatu startup. Dan kemudian teman saya berangan-angan bagaimana jika startup  kami diakuisisi oleh Facebook, dan kami pindah ke Amerika. Saat itu kedengarannya menyenangkan, tapi saya malah berpikir hal lain, tentang sisi buruk startup yang diakuisisi. Kemungkinan bahwa startup kami akan ditutup.

Kenapa Perusahaan Besar Mengakuisisi Startup (dan menutupnya)?

Kemungkinan startup akan ditutup setelah diakuisisi sangatlah besar, dan hal ini sering terjadi. Contohnya seperti Apple yang mengakuisisi Lala dan kemudian menutupnya, Google membeli Dodgeball yang lantas dibiarkan saja, hingga akuisisi Flickr oleh Yahoo yang dikecam banyak pihak.

Untungnya saat Instagram diakuisisi oleh Facebook pada tahun kemarin, mereka tidak lantas menutupnya (tentu banyak yang bakal marah). Tapi beberapa masih tidak puas, karena Instagram dikenal sebagai startup yang mempunyai aplikasi dengan desain yang bagus dan berkelas, sedangkan Facebook adalah situs sejuta umat dengan desain yang biasa-biasa saja.

Talent

Kenapa startup-startup tersebut ditutup setelah diakuisisi? Untuk mengetahui jawabannya, kita pertama-tama harus tahu alasan kebanyakan perusahaan besar ketika mereka membeli startup. Mereka tidak menginginkan startup tersebut, tapi mereka menginginkan talent atau orang-orang berbakat yang ada dibalik suatu startup.

Perusahaan teknologi harus terus berinovasi, karena itu mereka membutuhkan orang-orang yang kreatif dan jenius. Dan kebanyakan dari mereka sibuk membangun bisnis startupnya masing-masing. Jadi cara tercepat untuk mendapatkan orang-orang bertalenta tersebut adalah dengan membeli startup mereka, dan kemudian menutupnya. Untuk kemudian mempekerjakan mereka sebagai karyawan di perusahaan yang mengakuisisi.

Dari sisi finansial memang bagus, mungkin mereka akan mendapatkan uang lebih banyak dibandingkan pada saat mereka berbisnis dengan startup-nya. Tapi mereka tentu akan kehilangan sesuatu, karya mereka yang dibuat dari nol.

Patent/Teknologi

Alasan lainnya adalah, mereka menginginkan patent atau teknologi dari perusahaan yang diakuisisi. Contohnya seperti akusisi Google terhadap Motorola, akuisisi Google terhadap startup pattern recognition PittPatt dan akuisisi Google terhadap Sparrow. Biasanya perusahaan tersebut berniat untuk mengintegrasikan teknologi startup dengan teknologi yang mereka punyai, atau mereka cuma ingin memperkaya koleksi hak paten miliknya.

Tapi tidak semua akuisisi menghasilkan akibat buruk, beberapa perusahaan malah mendukung startup yang dibelinya dengan sokongan dana. Seperti kasus akuisisi QuickOffice oleh Google dan akuisisi Instagram oleh Facebook.

Pada akhirnya semua kembali kepada kita, apakah kita ingin mendapatkan finansial yang lebih besar, atau ingin startup kita tetap berjalan. Yang pasti cuma kalian yang tahu bagaimana caranya menjalankan startup milik kalian sendiri, asal jangan sampai bangkrut.





Download aplikasi kami di Google Play Store


Tutorial Menarik Lainnya :

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!