Privilege Buat Orang Miskin?

Belakangan ini di social media ramai orang2 yang mencoba mendefinisikan apa itu privilege bagi si Miskin. And I think none of it have quite the right answers of privilege for the poor.

Apakah ada privilege buat si miskin?

Tentu saja ada.

Dan tidak seperti yang dibilang seorang affiliator Binomo, privilege orang miskin itu bukan kerja keras, berjuang ataupun sukses. Menurut saya itu semua lebih ke “alasan”. Contohnya, “Alasan saya kerja keras, adalah karena saya miskin.” Lantas apa itu privilege buat si Miskin? Mari coba kita bahas.

Privilege Untuk Orang Miskin

Privilege Orang Miskin Indra Kenz Tersangka Binomo FAKARICH

Privilege yang pertama adalah,

Tidak dimintai pertanggungjawaban atas hartanya

Karena ya memang orang miskin tidak punya harta, lantas apanya yang mau dihisab atau dimintai pertanggung jawaban?

Beda dengan orang kaya yang mumet bin ribet, karena pasti bakal diminta pertanggungjawaban yang banyak, contohnya seperti:

  • Dari mana hartanya didapat?
  • Digunakan untuk apa saja hartanya?
  • Kewajiban2 atas harta itu apakah sudah dijalankan? 
  • Apakah sifat atau akhlaknya berubah setelah menerima harta? Dan sebagainya.

Privilege yang kedua

Ngga kena fitnah

Harta itu (bisa jadi) fitnah. Tapi kitanya saja yang ga sadar.

Tetangga yang gosipin kita di luar, itu sudah fitnah

Kompetitor bisnis yang jelek2in kita, itu apa? Yap itu juga fitnah.

Kitanya memang bukan yang melakukan fitnah, tapi kita yang kena.

Kalo orang miskin? Boro-boro difitnah, mereka mungkin tidak pernah jadi bahan gosip atau bahan obrolan orang lain. Kemudian privilege orang miskin lainnya adalah.

Hidup Santai, dan Tidak Ribet

Orang yang tidak punya harta tidak perlu memikirkan banyak hal yang bikin ribet, berbeda dengan orang kaya yang biasanya mereka mungkin memikirkan soal:

  • Waduh emasku sudah banyak, jaganya gimana ya supaya aman? Kutitipin dimana ya?
  • Walah villa-ku banjir, mana yang jaga lagi mudik lagi
  • Anjir males banget keluar malam takut dirampok, dsb

Akhirnya kehidupan mereka disibukkan dengan mengurusi hartanya. Pernah liat orang mencari ketenangan? Apa yang pertama kali dilakukan? Yup membuang hartanya. Hidup minimalist. Karena kebanyakan harta bisa jadi kita yang “dikuasai” oleh harta, bukan sebaliknya. Ada juga istilah “membeli privasi”. Karena semakin kamu kaya maka kemungkinan besar kamu akan semakin terkenal, sehingga privasi pun tidak bisa didapatkan semudah saat kamu bukan siapa-siapa.

No such things as privilege, if you believe Tuhan itu Adil

Kosan di Jerman/Inggris lebih privileged daripada ngekost di Jogja? Belum tentu.

Belum pernah ya merasakan mandi dibatasin 10 menit, lebih dari 10 menit airnya mati

Makanan bland, taste-nya tidak sekaya makanan Indo.

Semisal malem2 pingin jajan, siomay, mie ayam, atau bakso mana ada di sana.

Kalo homesick kebayang juga jarak yang harus ditempuh untuk pulang ke rumah, belasan ribu kilometer.

Saya sendiri belum pernah, itu semua cerita dari teman yang sambat sewaktu kuliah di Eropa.

Sebenarnya privilege tentu saja ada, tapi jika itu menjadi masalah buat kita, ya anggap saja tidak ada karena Tuhan itu adil. Contoh gampangnya berapa banyak orang kaya yang sebenarnya bisa membeli makanan apapun, tapi tidak bisa mereka makan? Karena diabetes, ginjal, hipertensi, kolesterol dan lain sebagainya. Akhirnya ya makannya terbatas, walaupun mereka kaya.

Miskin Bisa Jadi Berkah

Akhir-akhir ini saya sedang suka mendengarkan ceramah Gus Baha. Ada suatu kisah yang menarik di salah satu ceramah Gus Baha, jadi alkisah ada seseorang yang soleh, wali tapi miskin.

Malaikat tanya ke Tuhan, “Tuhan itu hamba-Mu ngibadah terus, akhlaknya baik. Kok dibiarkan miskin? Bukannya mudah bagi-Mu untuk memberinya rezeki.”

Dijawabnya, “Lha kalo Saya jadikan dia kaya. Trus apa yang jadi alasan Saya masukkan dia ke Surga? Wong orang ini mau masuk ke Surga itu karena kemiskinannya.” 

Nah itu semua kita tidak tau. Apakah harta kita itu berkah buat kita atau malah ujian?

Ada anak SMA senang sekali dibelikan motor baru, tapi ternyata motor itu malah bikin dia kecelakaan.

Ada orang ketinggalan tiket pesawat panik nangis2, merasa dirinya orang paling sial. Tapi ternyata beberapa saat kemudian ada pengumuman kalau pesawatnya kecelakaan, semua penumpangnya ga ada yang selamat. Si orang itu jadi bersyukur ketinggalan pesawat.

Kalo begitu, mendingan jadi miskin saja dong???

Namanya trade off pasti ada.

Orang miskin, privilesenya ga dimintai pertanggungjawaban atas hartanya.

Tapi dia tidak dapat nikmat.

  • Nikmat fine dining 
  • Nikmat beli apa2 tidak usah pikir2
  • Nikmat naik First Class
  • Nikmat mendapatkan kehidupan yang berkualitas

Sedangkan orang kaya, bakal dimintai pertanggungjawaban. Tapi dia dapat nikmat. Bisa menikmati.

Begitulah yang namanya dunia ga ada yang complete. Ga ada yang enak 100% atau ga enak 100%, pasti kombinasi keduanya.

Karena hidup ini cuma sawang-sinawang.

Yang kelihatannya indah, belum tentu enak untuk dijalani.

Karena itu ujung2nya,

“Penak sing nyawang”

Mau gimana2 paling enak orang yang hanya melihat, liat rumah gede wah pasti enak hidupnya, liat mobil bagus wah enak banget ya mobilnya pasti nyaman dikendarai, dan enak2 lainnya.

Padahal dia belum merasakan di balik apa yang terlihat enak itu, terdapat penderitaan dan kemumetan yang mungkin ga semua orang mau dealing with that.

Seenak2nya kita punya duit punya ini itu, tetap lebih enak yang cuma “lihat” saja.…

Oh iya postingan ini terinspirasi oleh celotehan salah satu affiliator Binomo yang sekarang sudah mendekam di balik jeruji besi karena kisah penipuan. Tulisan ini dibuat saat affiliator tersebut belum ditangkap oleh Bareskrim.

Bagaimana dengan kalian? Lebih baik hidup secukupnya saja atau berambisi untuk jadi orang kaya? Tuliskan di kolom komentar ya!





Download aplikasi kami di Google Play Store


Tutorial Menarik Lainnya :

Leave a Reply

TWOH&Co.